Senin, 31 Mei 2010

Untitled

Jemariku ingin menggamitmu
Tapi, siapalah aku
Di antara desakan orang yang memuja
Aku bagaikan pasir dalam hembusan angin
Berterbangan menuju tak tentu
Lalui segenap rindu tak bertemu
Lewat gurat pena, aku bercerita
Lewat puisi tua, aku bertutur kata
Segala resah, tersimpan di dada

Aku bahkan tidak cukup berani
Tuk sampaikan nada kata dalam jiwa
Karena engkau bintang, dan aku hanyalah pengembara
Sedang engkau bersinar terang, lalu aku bermuram durja
Karena engkau bunga, dan aku hanyalah belukar
Sedang engkau elok rupa, lalu aku tumbuh liar
Segala jarak mengandung beda
Hingga pengharapan dan kenyataan,
Begitu sulit teruntai dalam simfoni bahagia

Jika memang takdir tiada bersambung
Biarkan bayangmu menari dalam imajinasiku
Kan kupahat kau dalam relungku
Dan kusimpan dalam sudutku
Hingga malam tak lagi terlalu kelam
Sebab, bintang menjadi penerang jalan
Hingga padang tak perlu lagi gersang
Sebab, bunga tumbuh di sela bebatuan

Mungkin, kau tak perlu dengar desah ini
Sebab siapalah aku, si pengelana mimpi, bagimu

Kepada Seorang Kawan ^^


Kawan, aku tak tahu apa yang dapat kulakukan untukmu. Saat kau menyampaikan berita itu, kau hanya berkata, “Terimakasih karena sudah bersedia mendengarkan.” Sungguh, aku merasa begitu lemah karena hanya dapat menjadi seorang pendengar, apalagi aku telah memberi saran yang membuatmu melayang sebentar kemudian terhempas dengan cara yang begitu menyakitkan. Andai aku punya dapat berbuat lebih.

Aku tahu, aku tak dapat membuat dunia sesuai yang kuinginkan. Aku ingin tak ada perang, tak ada kebencian, tak ada kemiskinan, tak ada kesedihan, tapi sejarah tak pernah lepas dari keempatnya. Dan ketika aku mencoba mewarnai duniaku dengan pandangan itu, aku masih tetap gagal, bahkan pada dirimu. Aku gagal menghindarkanmu dari airmata, aku gagal membantumu menjadi lebih baik, bahkan celah yang kuanggap mampu menolongmu pun tak dapat berkata banyak.

Meskipun kata andai sekarang menjadi sia-sia, aku tetap tak bisa mengenyahkannya dari benakku. Seandainya aku lebih sering mengingatkanmu, mungkin semuanya tak perlu sedemikian parah. Aku senang merenung, merangkai kejadian-kejadian lampau dalam sebuah kisah hingga bisa kuambil baik-buruknya. Kadang renungan itu hanya bertahan selama seminggu, kadang sebulan, tak pasti, namun aku tahu, tidak semuanya berjalan dengan gayaku. Mungkin kau tak begitu, dan seharusnya saat kau tengah terpuruk aku ada di sana untuk dirimu.

Kau tak menyalahkanku, bahkan kau mengucapkan terimakasih. Tapi aku benar-benar merasa tidak pantas mendapatkan segala kebaikan dan kepercayaan darimu, aku bukan seorang kawan yang baik. Aku mengetahui segala sesuatunya ketika semuanya sudah terlambat, padahal aku tahu bagaimana kau menyikapi segala sesuatu, seharusnya aku lebih keras mendorongmu.

Kawan, aku tak tahu lagi apa yang bisa kulakukan untukmu, meski kau memang tak pernah memintanya. Namun aku tahu, aku memiliki bagian kesalahan dalam kasusmu. Aku tak cukup peduli dan tegas dalam mengingatkanmu. Salah satu tujuanku yang dari dulu tak pernah berubah adalah menjadi orang yang berguna, tapi bahkan untuk dirimu hal tersebut tak berhasil.

Kenapa kau masih percaya padaku? Kenapa kau masih menceritakan kisah-kisahmu padaku? Bukankah aku tak bisa berbuat banyak untukmu? Bukankah kata-kataku tak mengeluarkan dirimu dari masalah? Aku benci perasaan ini, saat aku hanya bisa terdiam mendengarkan segala kisahmu tanpa dapat berbuat banyak, apalagi setelah semuanya terlambat.

Aku sering bertanya-tanya, kenapa banyak orang yang demikian baik padaku. Hal-hal kecil yang dapat membuat hariku cerah ceria: ucapan-ucapan semangat di pagi hari, kata-kata kangen, ucapan selamat ujian, senyum, sebuah anggukan sebagai tanda sapa, jaga kesehatan, tanya akan hari dan rutinitasku, waktu yang orang bagi bersamaku, dunia tampak begitu sempurna. Namun ternyata aku tetap tidak bisa menjadi orang baik bagi yang lain. Mungkin aku masih berada dalam tahap yang paling rendah, sebatas dalam hati.

Ya Allah, berilah hamba-Mu ini kekuatan untuk menjadi lebih baik. Agar tak kudapati lagi tatapan terluka. Sang Maha Kasih, apakah aku egois karena menginginkan orang-orang yang kusayang tak bersedih agar diriku sendiri pun tak ikut berduka?

Negeri Kecil (dibawah khatulistiwa)

*Bukan Puisi


Ini bukan cerita Negeri entah berantah
Adalah sebuah Negeri Kecil yang hidup dibawah Khatulistiwa
Negeri yang Tubuh dan merangkak di Atas Cincin Api.
Sering disebut Negeri ini tanah Surga
Alasannya tidak ada tumbuhan yang tidak tumbuh disini

Penghuninya mendekati Dua Ratus Dua Puluh Juta jiwa
Namun sayang hampir semua menjadi babu di Negeri sendiri
Sampai pimpinan Rumah tangga masih dibawah kendali “Istri”
Negeri yang kecil, hanya Tujuh belas ribu sekian Pulau
Dan tidak sedikit pulaunya yang belum bernama
Sangking kecilnya banyak warga yg mengungsi
Kenegeri tetangga.
Mungkin karena disini sudah sesak
Oleh para pemulung yang berdasi
Yang merampas semua hak – haknya
Hampir semua aktifitas di sini ada komisi
Wajar kalau pemulung dikasih Dasi

Negeri yang hasil tambangnya hampir rata – rata
urutan lima besar di dunia.

Delapan puluh persen minyak di asia tenggara
Ternyata di hasilkan di Negeri yang Kecil ini.
Wajar kalau Rakyatnya masih mengais Sampah
Dari sisa buang Pemulung Berdasi
Hanya untuk bertahan hidup besok pagi
Kenapa tidak, di Negeri ini kasus buang angin lebih berarti
Dari pada kasus memberantasan korupsi
Pencuri semangka di Penjara
Pembobol Bank di lindungi, alasan belum cukup bukti
Maka jangan heran kalau anak bangsa
Hanya bisa menelanjangi diri
Pemimpin Bangsa hanya hidup meraup riba
Anak laki – laki hidup dalam kungkungan Narkoba
Anak Perempuan membanting harga diri
Hanya dengan alasan “Hidup Susah”
Namun sudah biasa di Negeri kecil ini

Negeri yang ter hanyati
Yang hutannya di jual oleh Musang Bersepatu
Oleh tikus bergelar Doktor
Hanya keperluan sekenar untuk
menambah simpanan “maaf” Wanita malam
Lagian Istri Resminya berbangga asal tidak Poligami

Itulah negeri kecil dibawah Khatulistiwa
Tapi akhir – akhir ini, banyak “TERORIS” berkeliaran disini
Katanya....
Jangan – jangan hanya Rekayasa
Kerena kelebihan Negeri kecil ini
Pemegang senapannya di didik oleh
Yahudi Dalang makar di berbagai sudut bumi

Satu kebanggaan di Negeri ini
yaitu Negeri yang umat Muslim terbesar didunia
Berdoalah untuk Negeri Kecil ini
Agar kebangkitan Islam lagi
Bermula disini